Rabu, 13 Februari 2013

845 ARTIKEL, BUKTI MENULIS ITU GAMPANG

Ini Bukunya Ilustrasi Leutikaprio

TERKEJUT
Anda bisa saja terkejut membaca judul tulisan saya ini, itu wajar sungguh sangat wajar bahkan terlalu wajar bagi yang belum mengenal saya seutuhnya,  walaupun tulisan saya jelek dan tak bermutu saya punya kiat-kiat melawan jeleknya tulisan saya .

MENCIBIR
Saya pastikan Anda tadi mencibir ketika membaca alinea pertama tulisan ini, kalau tak mencibir pasti dongkol dalam hati tertawa, lalu buang ludah keluar dari jendela, perut rasa mual pingin muntah. Itu prasangka saya yang memang beralasan.

RUMAH SEHAT KOMPASIANA
Walaupun Saya ini belum terkenal dan dikenal secara utuh , tapi setidaknya  menyaksikan coret-coretan saya selama di Rumah Sehat kita Kompasiana 17 oktober s/a hari ini 12 Pebruari 2013, saya telah menulis dan memposting 845  judul, dengan rincian :

* Bulan Oktober  11 Naskah
* Bulan  Nopember    36 Naskah
* Bulan Desember      58 Naskah dan seterusnya.

Agar pembaca tidak mencibir dan salah presepsi silahkan  buka link :  http://www.kompasiana.com/muhammadnur_se

 Hingga  hari ini telah terposting di Kompasiana 845  naskah Artikel dan menulis dibeberapa Blog antara lain " Warta Warga Sulbar, Gilabolagalibola, Advetorial, Citizen Jurnalis dan sebagainya yang saya buat serabutan ketik sambil bekerja tak ada satupun yang mendapat sambutan hangat dari pembaca, entah mengapa saya sendiri tak tahu penyebabnya, kalau praduga saya tulisan itu tak menarik, tak mempunyai kaidah penulisan yang baik dan benar, bahasanya semerawut, ketikannya panteng celemot dimaklumi saja saya baru belajar mengetik naskah  pake komputer 2 tahun  terakhir ini, itu  karena tugas saya sehari-hari bukan tukang ketik saya tukang baca ketikan , kalau jelek dan tak bermakna saya pasrah, saya lagi belajar menyesuaikan diri dengan komputer laptop, gaya bahasa dan penulisan sekarang ,  dan menyesuaikan kondisi Dashboard yang belum saya pahami.

PUISI PERTAMA
Sesungguhnya saya telah mulai menulis sejak SMA kelas satu,  tapi itu dulu beberapa puluh tahun yang lalu. Tulisan saya yang pertama kali  di publish di Media adalah sebuah Puisi berjudul ” Sajak Surat Cinta seorang Pelaut ” tak tanggung-tanggung di Surat Kabar harian Ibukota ” SINAR HARAPAN ” yang saat itu sangat di kenal  dan terkenal menjangkau hampir seluruh pelosok tanah air Indonesia.

Yang membuat saya bangga Puisi ” SAJAK SURAT CINTA SEORANG PELAUT ” ini mendapat tanggapan serius dari Redaksi  dan memberi  ( semacam resensi ) satu kolom khusus mengulas dan memuji saya sebagai penulis puisi yang punya harapan masa datang. Padahal Puisi itu saya buat sesaat hanya dalam waktu 10 menit ketika saya dan teman-teman berjalan-jalan sore ke pantai melihat-lihat kapal-kapal barang yang bersandar di dermaga Palopo.

CERPEN PERTAMA
Bangga dengan termuatnya Puisi ini  sayapun mulai tekun menulis bahkan hari-hari sepulang sekolah saya gunakan untuk corat-coret, akhirnya cerpen pertama saya ” GADIS DIBALIK KACA ” terbit di Majalah Sahabat Pena milik Perum Pos dan Giro., dan ini honor pertama dari Cerpen pertama saya sebagai penulis kampungan yang tinggal di kampung.
Setelah mendapat Honor pertama dan merasakan nikmatnya  hasil keringat dari menulis  saya lalu mengirim beberapa naskah saya keberbagai penerbitan, syukur ada lebih dari sepuluh cerpen saya termuat di Majalah Remaja Ibu kota judul-judul ada yang saya ingat,ada yang tidak maklum arsip-arsip nya sudah pada hilang di telan jaman 22 tahunan yang lalu bukanlah waktu yang singkat :

Yang masih saya  ingat saya sebut satu-satu saja  adalah yang terbit di Majalah : Aneka, gadis jelmaan oshin, Majalah Ceria Remaja, Surat tak bertuan, Majalah Idola : Kumpulan Puisi Cinta.
Dengan bangga saya katakan bahwa tulisan jelek saya  pernah juga mengisi kolom mingguan PKK di Tabloid Wanita Indonesia,  Redakis Tabloid WI pasti masih ingat, Muhammad Nur  Kompleks Trans Mamuju.

BUKU PERTAMA
Buku pertama yang saya tulis dan sebagai editor bersama putra pertama saya M.Aditya Arie Yudistira,  adalah Buku catatan kerja  Pejabat Gubernur pertama Sulawesi Barat Bapak Drs, H, Syamsul Arief Rivai dengan Judul ” MERINTIS JALAN MEMBANGUN SULAWESI BARAT ” sebuah auto biografi dari seorang Gubernur yang secara bersamaan menjabat pula sebagai Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Departemen Dalam Negeri, yang di rilis pada pada bulan Agustus 2006, 7 tahun yang lalu, setebal  lebih dari 100 halaman ini dicetak dalam ribuan copy dan diedarkan kepada para pejabat, pemuka masyarakat dan tokoh agama serta Tokoh masyarakat, pegawai negeri, di Sulawesi Barat. Tentu ada buku yang kedua, nanti lain hari saya ceritrakan.

MENULIS BUKU ITU GAMPANG
Saya bukannya sombong saya cuma ingin mengatakan bahwa menulis buku itu gampang bagi saya karena tanpa promosi, basa-basi saya dan anak saya diminta untuk menulis buku tentang SULBAR diakhir Jabatan Pa Arief Rivai, kami berdua menerima  bayaran yang lumayan daripada yang diterima penulis yang mencetak dan memasarkan bukunya sendiri, maaf kalau ada yang merasa tidak enak badan, yang pasti buku itu selesai dalam waktu tak lebih dari 2 bulan, diedit sendiri, siap cetak dan edarkan, tak ada kesulitan yang berarti karena dana  seluruhnya ditanggung oleh pemesan. Kalau ada yang mau tahu berapa bayaran yang diterima dari menulis buku itu, masih rahasia, saya takut pembaca bisa mencibir untuk kedua kalinya pokonya bisa buat beli…..?? ha ha ha ha.
Buku Kedua Kutitip Cinta pada 3 perempuan  sudah terbit kalau ada yang mau baca silahkan hubungi kami dan ketiga Leave me alone sementara dalam tahap edit hebat kan walau sudah setua ini baru ada 3 judul buku yang dihasilkan dengan kerjakeras dan keringat batu hingga tidak tidur selama 19 Jam sehari, sadis nggak tuh...hehehehe.

Kompasianer  yang asal bunyi kayak saya ini walau pernah menulis di Koran, juga di Majalah bahkan sudah bikin Buku tetap saja tulisannya JELEK dan JARANG di BACA ORANG, SO IMPORTANT AND CERTAINLY :
Apapun usaha yang kita jalani faktor Luck, nasib dan takdir adalah diatas dari segalanya. Selamat menulis.**
Nota : Saya berusaha memposting sedikit isi buku dari dalam DVD dan Kulit sampul, berkali-kali saya coba tapi tak berhasil Insya Allah foto2 akan saya susul kemudian, maklum serba belajar, belajar menulis dan belajar memposting.

6 komentar:

  1. om yang saya hormati , menulis berarti ingin di baca siapaun boleh, persoalan apakah itu menarik atau tidak itu soal terahir ,inti dari menulis adalah ungkapan isih hati ,apakah itu dalam perjalanan hidup sang penulis atau atau sebuah coretan sebagai ungkapan belaka atau yang berkenaan sebagai hoby atau sejarah masah lalu atau sebaliknya ..? hanya penulis yang tahu ,.tetapi inti ilmu komunikasih adalah ungkapan pepata bijak mengatakan." lebih baik berucap salah dari pada 'DIAM' tidak tahu arah tujuan". " malu bertanya ahirnya jalan terus " .ada yang salah berarti pasti ada solusi ,.tetapi kalau "DIAM". tidak ada yang salah tidak ada benar .sebagai seseorang yang mempunya jiwa patriotisme atau lebih di kenal sebagai pemimpin yang mempunyai integritas berani mengatakan salah atau benar , buakan "DIAM" , itulah termasuk dalam kategori komunikasi politik tanpa arah . maaf selanjutnya nanti...?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Teruskan Din Genjot terus hahahahaha

      Hapus
  2. "SEKOLAH MASAH DEPAN TIDAK MEMILIKI PINTU".

    Pikirkan sebuah ceramah di ruang kelas tradisional pada awal abad ke-20: Garis (terutama) pria duduk di ruang kuliah besar, mendengarkan dalam keheningan seorang profesor declaiming kuliahnya. Pikirkan kelas hari ini. Setelah sepuluh menit dari awal kelas, siswa sudah tidak nyaman di kursi mereka, memeriksa e-mail pada tablet mereka dan rating sangat mungkin kuliah profesor secara real time pada jaringan sosial.
    Orang-orang dari usia saya (pertengahan empat puluhan) telah belajar apa yang mereka tahu dengan menghabiskan berjam-jam membaca buku cetak. Mereka yang lahir sekarang akan memiliki pengalaman pengetahuan yang sama sekali berbeda dari saya. Setelah budaya lisan, naskah dan cetak, pengetahuan mengalami revolusi digital. Dan implikasi dari revolusi pengetahuan yang tidak jelas. Jadi di sini adalah beberapa ide untuk mendorong refleksi.
    Bentuk-bentuk baru belajar memiliki implikasi, terutama jika kita ingin membuat siswa penuh perhatian di kelas. Pengalaman mereka perlu mengubah untuk memperhitungkan banyak eksposur mereka yang lebih besar ke dunia gambar daripada teks. Jadi ruang belajar, serta praktik belajar, berubah.
    Sepotong berita menarik perhatian saya hari lainnya: investasi ekuitas swasta dalam pendidikan masih relatif rendah, tetapi tumbuh pada persentase dua digit. Universitas tidak lagi sangat berperan dalam hal ini jaringan produksi pengetahuan. Lainnya menjadi bagian penting dari jaring ini dan di antaranya, tidak mengherankan, adalah media dan perusahaan hiburan. Jika ada mereka masuk di lapangan akan membuat kuliah kurang membosankan.
    Sebagai seorang profesor dengan pengalaman mengajar 20 tahun ', pintu masuk media di sektor pendidikan tidak mengherankan. Saya berpikir bahwa dalam waktu yang relatif singkat akan ada keseimbangan yang berbeda antara kegiatan belajar yang berbeda. Akan ada relevansi yang lebih besar dari interaksi jaringan online dan sosial. Pengetahuan akan lebih kelompok dan pengalaman sosial daripada hubungan eksklusif antara guru dan murid. Akan ada sedikit ceramah dan lokakarya lebih dari jenis yang terjadi di perusahaan arsitektur dan desain, dengan latihan prototyping menggantikan, ternyata juga di lahan kering seperti akuntansi (saya sendiri!).
    Ini berarti kuliah akan mencampur berbagai bentuk pembelajaran, bahasa dan gaya ekspresi dan komunikasi. Sang profesor akan lebih dari sebuah orkestra dari pengalaman pembelajaran baru, bekerja sama dengan ahli media untuk tujuan pendidikan.
    Tentu saja, akan ada risiko dan peluang. Risiko ini dicontohkan oleh anekdot bahwa rekan saya menceritakan (saya tidak tahu apakah itu benar atau tidak). Seorang profesor di lembaga besar di Amerika Serikat sedang merekam ceramah yang akan disiarkan di internet. Pada satu titik ia mengajukan pertanyaan kepada penonton. Dia menerima jawaban. Dia kemudian mengajukan pertanyaan lagi, berpikir bahwa siswa, bahkan di lembaga yang paling bergengsi, selalu malu. Dia tidak menerima jawaban, tapi salah satu yang berbisik 'mahasiswa': 'Profesor, kami tidak mahasiswa, kita adalah aktor!'.
    Keuntungannya adalah demokratisasi yang lebih besar pendidikan dengan pengalaman lebih untuk melibatkan semua pihak yang terlibat. Banjir era digital kita dengan lautan informasi dan tanpa pikiran kritis kita tidak akan dapat membedakan apa yang berguna dari apa yang tidak berguna. Dan tanpa pendidikan yang memelihara kecerdasan kita daripada keterampilan kita, kita tidak akan memiliki peta untuk menavigasi seperti lautan.
    Saya pikir kita harus bergerak di antara dunia praktek dan dunia akademisi. Dunia praktek saja tidak akan mampu memberikan keahlian yang dibutuhkan dengan mengumpulkan pengalaman sebanyak dunia akademis tidak akan dapat menghindari keterlibatan konstan dengan dunia profesi, ekonomi dan masyarakat untuk memahami perubahan dalam belajar , masyarakat dan ekonomi. Mendiami ruang ini baru "di antara" Sepertinya saya masih misi menarik masih senilai dikejar.
    Penulis:

    BalasHapus
  3. CUMAN BERCANDA LEBIH BAIK MERENDAH DARIPADA SOMBONG BUKTINYA DEK UDIN JUGA SUDAH BACA...HEHEHEHEHEHE

    BalasHapus
  4. maksih om SANG PUJANGGA jalan terus biar dunia akan tahu ............?

    BalasHapus
  5. Setelah proyek milyaran selesai, seorang pejabat sebuah departemen kedatangan tamu konsultan merangkap kontraktor.

    Konsultan: “Pak, ada hadiah dari kami untuk bapak. Saya parkir dibawah Toyota Innova.”

    Pejabat : “Anda mau menyuap saya? Ini apa-apaan? Tender sudah kelar koq. Jangan gitu ya, bahaya tahu masa sekarang memberi gratifikasi!”

    Konsultan: “Tolonglah pak diterima. Kalau tidak, saya dianggap gagal membina relasi oleh komisaris.”

    Pejabat: “Ah, jangan gitu dong. saya gak sudi!!”

    Konsultan (mikir ): “Gini aja, Pak. Bagaimana jika Bapak beli saja mobilnya?”

    Pejabat: “Mana saya ada uang beli mobil mahal gitu!!”

    Konsultan menelpon komisaris. Lalu beberapa saat kemudian:

    Konsultan: “Saya ada solusi, Pak. Bapak beli mobilnya dengan harga Rp. 10.000,- saja.”

    Pejabat: “Bener ya? Ok, saya mau. Jadi ini bukan suap. Pakai kwitansi ya!”

    Konsultan: “Tentu, Pak!”

    Konsultan menyiapkan dan menyerahkan kwitansi. Pejabat membayar dengan uang 50 ribuan. Mereka pun bersalaman.

    Konsultan (sambil membuka dompet): “Oh, maaf Pak. Ini kembaliannya Rp.40.000,-.”

    Pejabat: “Gak usah pakai kembalian segala. Tolong kirim 4 mobil lagi kerumah saya ya.”

    Konsultan : @#$%^&** (sambil berpikir dalam hati bahwa pejabat ini sama saja korupnya

    BalasHapus